Sunday, November 13, 2011


EID MUBARROQ...BROTHER MOSLEM!!!
Sabrie Noer (Angers, 09.11.2011)

Dari luar, sepintas bangunan itu hampir tidak ada bedanya dengan rumah penduduk lainnya. Sebuah bujur sangkar berwarna krem dengan genteng hitam, serta sebuah chimney (cerobong asap) berwarna merah bata – sepertinya ada undang-undang khusus yang dikeluarkan pemerintah setempat untuk ijin bangunan, bahkan dalam hal memilih warna atau merk cat. Itulah Mosquée d'Angers (mesjid Angers) terletak di daerah Trelaze dipinggiran Timur kota Angers. Sebuah mesjid yang sangat sederhana, tanpa kubah, tanpa plank nama.

Pagi itu, 6 Nopember 2011, hujan gerimis dan awan kelam meliputi langit kota Angers- sebuah kota tua yang sepertinya tidak berubah sejak ratusan tahun yang lalu. Sejak pukul tujuh pagi rumah Allah itu dipenuhi umat muslim. Tua-muda, besar-kecil, laki-perempuan, hitam-putih-coklat, berdesakan menyesaki interior mesjid yang tidak lebih dari 120 meter persegi itu dengan wajah berseri-seri. Tanpa sadar air mata ku berlinang mendengar gema takbir bersahut-sahutan diruang sempit mesjid itu. Teringat indahnya lebaran di kampung, teringat anak-istri. Namun kadang-kadang geli juga hati mendengar takbirnya yang rada “flat” alias datar-datar saja (tidak ada lagu seperti takbir kita di Indonesia). Agak aneh dan lucu kedengarannya logat sengau Perancis melagukan takbir...he.he.

Sambil menggumam takbir, sempat ku amati sekeliing ruangan yang hangat itu. Temboknya yang berwarna krem dengan lapisan hitam batu ardois sekilas seolah-olah sebuah lukisan abstrak yang tersebar di seluruh permukaan temboknya. Pada dua sisi tembok, kiri dan kanan, terpasang semacam rak berwarna maron yang berisikan kitab suci Al-Qur’an dan buku-buku agama. Sementara, sebuah podium rendah berwarna coklat kayu terletak didepan, tempat sang khatib membaca khutbah dalam dua bahasa, Arab-Perancis. Memang tidak semua yang disampaikan khatib bisa ku mengerti, maklum bahasa Perancis ku masih setengah-setengah, apalagi bahasa Arab. Namun, sedikit bisa ku pahami bahwa sang khatib bercerita tentang sejarah pengorbanan keluarga nabi Ibrahim A.S, sejarah kebesaran islam serta kondisi umat islam di dunia saat ini.

Kadang-kadang agak aneh dan seperti tidak percaya ketika melihat wajah-wajah Eropah (bule) yang mengenakan gamis dan kupiah serta melantunkan ayat-ayat Allah. Karena yang sangat familiar di kita bahwa wajah bule itu identik dengan non muslim. Kalau boleh ku katakan, misalnya, wajah sang khatib mirip sekali dengan vokalis grup band Metalica yang sudah dipotong pendek rambutnya plus kacamata minus plus gamis dan kupiah haji putih di kepala. Sementara, jama’ah wanita dengan wajah-wajah bening, shallow cheeks, hidung terpacak seperti Angelina Jolie, Kiera Knigtly atau Cameron Diaz kelihatan sangat cantik tapi humble dalam balutan jilbab labuh nan islami...masyaAllaaaaaaah.

Selesai khutbah dan memanjatkan do’a, seluruh jama’ah bersalaman-salaman. Tiba-tiba seorang pemuda jangkung berewokan yang disebelahku tersenyum seraya mengulurkan tangan. Lalu kubalas senyum dan ku jabat erat tangannya. Hampir copot jantung ku, ketika dia mendekatkan pipinya ke pipiku seraya merangkul dan berbisik “Eid Mubarraq, Brother Moslem!, Eid Mubarraq...”. Dengan terbata-bata aku membalas “Eid Mubarraq”. Maklum, tak biasa dipeluk dan dicium laki-laki, apalagi yang berjambang pulak - merinding juga bulu kuduk dibuatnya.  Akhirnya semuanya berangkulan hangat dalam semarak Idul Adha musim gugur yang dingin sambil satu sama lain saling berucap, “... Eid Mubarraq, Brother Moslem, kemudian kata-kata dalam bahasa Perancis (yang aku tak mengerti)..., Alhamdulillaah, InsyAllah...insyAllah”. Sementara aku hanya bisa membalas “Alhamdulillaah Brother Moslem, InsyAllah...insyAllah”.

No comments: