EID
MUBARROQ...BROTHER MOSLEM!!!
Sabrie
Noer
(Angers, 09.11.2011)
Dari luar, sepintas bangunan itu hampir tidak ada bedanya dengan
rumah penduduk lainnya. Sebuah bujur sangkar berwarna krem dengan genteng
hitam, serta sebuah chimney (cerobong asap) berwarna merah bata – sepertinya
ada undang-undang khusus yang dikeluarkan pemerintah setempat untuk ijin
bangunan, bahkan dalam hal memilih warna atau merk cat. Itulah Mosquée d'Angers
(mesjid Angers) terletak di daerah Trelaze dipinggiran Timur kota Angers.
Sebuah mesjid yang sangat sederhana, tanpa kubah, tanpa plank nama.
Pagi itu, 6 Nopember 2011, hujan gerimis dan awan kelam meliputi
langit kota Angers- sebuah kota tua yang sepertinya tidak berubah sejak ratusan
tahun yang lalu. Sejak pukul tujuh pagi rumah Allah itu dipenuhi umat muslim.
Tua-muda, besar-kecil, laki-perempuan, hitam-putih-coklat, berdesakan menyesaki
interior mesjid yang tidak lebih dari 120 meter persegi itu dengan wajah
berseri-seri. Tanpa sadar air mata ku berlinang mendengar gema takbir
bersahut-sahutan diruang sempit mesjid itu. Teringat indahnya lebaran di
kampung, teringat anak-istri. Namun kadang-kadang geli juga hati mendengar
takbirnya yang rada “flat” alias datar-datar saja (tidak ada lagu seperti
takbir kita di Indonesia). Agak aneh dan lucu kedengarannya logat sengau
Perancis melagukan takbir...he.he.
Sambil menggumam takbir, sempat ku amati sekeliing ruangan yang
hangat itu. Temboknya yang berwarna krem dengan lapisan hitam batu ardois
sekilas seolah-olah sebuah lukisan abstrak yang tersebar di seluruh permukaan
temboknya. Pada dua sisi tembok, kiri dan kanan, terpasang semacam rak berwarna
maron yang berisikan kitab suci Al-Qur’an dan buku-buku agama. Sementara,
sebuah podium rendah berwarna coklat kayu terletak didepan, tempat sang khatib
membaca khutbah dalam dua bahasa, Arab-Perancis. Memang tidak semua yang
disampaikan khatib bisa ku mengerti, maklum bahasa Perancis ku masih
setengah-setengah, apalagi bahasa Arab. Namun, sedikit bisa ku pahami bahwa
sang khatib bercerita tentang sejarah pengorbanan keluarga nabi Ibrahim A.S,
sejarah kebesaran islam serta kondisi umat islam di dunia saat ini.
Kadang-kadang agak aneh dan seperti tidak percaya ketika melihat
wajah-wajah Eropah (bule) yang mengenakan gamis dan kupiah serta melantunkan
ayat-ayat Allah. Karena yang sangat familiar di kita bahwa wajah bule itu
identik dengan non muslim. Kalau boleh ku katakan, misalnya, wajah sang khatib
mirip sekali dengan vokalis grup band Metalica yang sudah dipotong pendek
rambutnya plus kacamata minus plus gamis dan kupiah haji putih di kepala.
Sementara, jama’ah wanita dengan wajah-wajah bening, shallow cheeks, hidung
terpacak seperti Angelina Jolie, Kiera Knigtly atau Cameron Diaz kelihatan
sangat cantik tapi humble dalam balutan jilbab labuh nan
islami...masyaAllaaaaaaah.
Selesai khutbah dan memanjatkan do’a, seluruh jama’ah
bersalaman-salaman. Tiba-tiba seorang pemuda jangkung berewokan yang
disebelahku tersenyum seraya mengulurkan tangan. Lalu kubalas senyum dan ku
jabat erat tangannya. Hampir copot jantung ku, ketika dia mendekatkan pipinya
ke pipiku seraya merangkul dan berbisik “Eid Mubarraq, Brother Moslem!, Eid
Mubarraq...”. Dengan terbata-bata aku membalas “Eid Mubarraq”. Maklum, tak
biasa dipeluk dan dicium laki-laki, apalagi yang berjambang pulak - merinding
juga bulu kuduk dibuatnya. Akhirnya semuanya
berangkulan hangat dalam semarak Idul Adha musim gugur yang dingin sambil satu
sama lain saling berucap, “... Eid Mubarraq, Brother Moslem, kemudian kata-kata
dalam bahasa Perancis (yang aku tak mengerti)..., Alhamdulillaah,
InsyAllah...insyAllah”. Sementara aku hanya bisa membalas “Alhamdulillaah
Brother Moslem, InsyAllah...insyAllah”.