Sunday, November 13, 2011

A LA FRANCAIS...C'EST SUPER!!!
Sabrie Noer 


Selisih waktu enam jam antara Perancis-Indonesia ternyata membuat banyak perbedaan. Bukan hanya perbedaan iklim saja tentunya. Meskipun kita di Indonesia menikmati matahari pagi enam jam lebih dahulu dari orang-orang di Perancis, namun barangkali kita telah tertinggal 600 tahun dibanding mereka dalam banyak hal. Sejak dicetusnya Revolusi Perancis 1789  dengan mengusung semboyan “Liberté, Egalité, Fraternité” atau kebebasan, persamaan pendapat dan persamaan derajat, Perancis telah tumbuh menjadi sebuah negara republic presidential yang sangat demokratis. Aaah...kedengaran agak klise! Saya yakin semua orang juga sudah pada tahu.

Namun yang menarik dan akan saya ceritakan disini adalah mengenai kebijakan dan perhatian luar biasa pemerintah Perancis terhadap hak-hak rakyatnya. Di negara yang tidak mau membicarakan agama ini, pemerintahnya benar-benar sadar akan tanggungjawabnya untuk memastikan keberlangsungan hidup rakyat jelata.

Sebagai contoh sederhana saja misalnya dalam hal fotokopi dokumen. Disini orang tidak perlu sibuk fotokopi ini-itu saat ada keperluan mengurus dokumen di kantor pemerintah atau perusahaan. Cukup bawa surat-surat aslinya saja dan petugas di kantor tersebutlah yang dengan senang hati akan melakukan pekerjaan itu. Artinya, biaya, waktu dan tenaga untuk keperluan fotokopi dibebankan kepada kantor, instansi atau perusahaan yang memang tugasnya melayani. Dengan kata lain, satu beban masyarakat diambil alih oleh pemerintah. Sederhana...namun cukup patut dicontoh menurut saya.

Tidak heran saat mengurus surat menyurat, kita akan menemukan petugas dengan senyum simpul (yang tidak dibuat-buat) bertanya, “Voulez-vous me faire de fotocopy, Monsieur?” (Anda mau saya fotokopikan dokumennya, Pak?). Dengan senyum penuh kemenagan mahasiswa Indonesia, yang dasar memang suka yang gratisan menjawab, “Bien sure! S'il vous plaît!” alias “Sure! Please!”.

Sebagai mahasiswa dengan ijin tinggal tidak lebih dari satu tahun, saya dapat merasakan begitu banyak kemudahan yang bisa diperoleh ketika menjadi bagian dari masyarakat di negara Zinédine Yazid Zidane  ini.

Misalnya, dengan kartu mahasiswa, kita bisa mendapatkan akses internet yang 24 hours available, baik di kampus maupun di rumah (asrama), dapat meminjam buku di  perpustakaan kampus selama 21 hari dan bisa diperpanjang tanpa harus datang melapor ke perpustakaan alias cukup dari rumah via internet plus free download beberapa situs jurnal internasional.  Kemudian, dengan ‘carte de etudiant’ (KTM) tersebut, kita bisa makan dengan harga murah di Resto-U (Restoran Kampus). Kalau diluar makan bisa sampai 6 euro, di kampus hanya 3 euro.

Apabila sudah memiliki Visa de Long Sejour (semacam KTP sementara), kita bisa mengurus potongan sewa rumah di kantor Caf (Caisses d'Allocations Familiales). Potongan yang diberikan lumayan besar, bisa sampai 50-60 persen (di tiap kota barangkali berbeda). Misalnya, normalnya saya harus membayar 318 euro per bulan untuk sewa asrama. Namun, setelah mendapatkan Caf saya hanya membayar 156 euro saja.

Setiap mahasiswa yang terdaftar secara otomatis sudah diberikan asuransi kesehatan (Sécurité Sociale) 100% bagi yang berumur dibawah 28 tahun. Bagi yang sudah tua (seperti saya) hanya mendapatkan 70%. Namun, hanya dengan mengirimkan beberapa dokumen permohonan ke kantor SMEBA (sejenis Health Insurance Service), saya juga bisa mendapatkan 30% sisanya. Jika sewaktu-waktu jatuh sakit (mudah-mudahan tidak), kita tinggal datang ke salah satu dokter yang telah direkomendasikan, berobat dan membayar (menalangi) dahulu biaya pengobatan. Setelah itu, kita tinggal menyerahkan bukti berobat tersebut ke kantor SMEBA untuk reimbursement biaya yang telah kita keluarkan untuk selanjutnya dikirimkan ke rekening kita kembali.

Kemudian, ada lagi yang namanya kartu ‘Escapade’, yakni kartu khusus untuk mendapatkan potongan harga tiket kereta yang bisa diurus di kantor SNCF (biro perjalanan Perancis). Dengan kartu tersebut kita bisa mendapatkan reduksi harga tiket hingga lebih 50%. Misalnya, harga tiket normal Angers-Paris sekitar 50 euro. Namun dengan kartu Escapade kita hanya membayar 22 euro saja.

Nah...ini neeh yang paling Mak Nyuuus. Namanya ‘Carte Partenaires’. Kartu ini bagaikan kartu sakti naga geni 212 (orang Indonesia paling depan neeh kalau saol ini...pendek kata, lambat kaki - kepala dulu). Dengan carte partenaires kita bisa dapat reduksi macam-macam. Mulai dari potongan harga untuk tiket bus, tramway, pelabuhan, perpustakaan umum, museum, nonton bioskop, pertunjukan teater, pertunjukan orkestra, kolam renang, gelanggang ice skating dan kegiatan olahraga lainnya, hingga potongan biaya pembersihan limbah rumah tangga dan servis publik lainnya. C’est super!!!

Alkisah...

Agak heran juga saya saat ke kantor SCSA tempat ngurus kartu sakti itu. Sambil antre nunggu giliran (dengan penuh percaya diri), saya perhatikan wajah-wajah yang nunggu disitu rata-rata terlihat agak sedih, sendu dan melankolis. Setelah usut punya usut, rupanya kartu tersebut diperuntukkan oleh pemerintah Perancis bagi warga masyarakat yang penghasilannya 1000 euro per bulan atau kurang (penghasilan dibawah standar upah minimum regional). Dengan kata lain, kartu sakti naga geni 212 tadi sepupu dekat dengan KARTU MISKIN. Dengan beasiswa 1000 euro per bulan rupanya saya
termasuk kaum du’afa di Perancis...he..he...

No comments: