A LA FRANCAIS...C'EST SUPER!!!
Sabrie Noer
Selisih waktu enam
jam antara Perancis-Indonesia ternyata membuat banyak perbedaan. Bukan
hanya perbedaan iklim saja tentunya. Meskipun kita di Indonesia menikmati
matahari pagi enam jam lebih dahulu dari orang-orang di Perancis, namun
barangkali kita telah tertinggal 600 tahun dibanding mereka dalam banyak hal.
Sejak dicetusnya Revolusi Perancis 1789
dengan mengusung semboyan “Liberté, Egalité, Fraternité” atau kebebasan,
persamaan pendapat dan persamaan derajat, Perancis telah tumbuh menjadi sebuah negara
republic presidential yang sangat demokratis. Aaah...kedengaran agak klise!
Saya yakin semua orang juga sudah pada tahu.
Namun yang menarik
dan akan saya ceritakan disini adalah mengenai kebijakan dan perhatian luar
biasa pemerintah Perancis terhadap hak-hak rakyatnya. Di negara yang tidak mau
membicarakan agama ini, pemerintahnya benar-benar sadar akan tanggungjawabnya
untuk memastikan keberlangsungan hidup rakyat jelata.
Sebagai contoh
sederhana saja misalnya dalam hal fotokopi dokumen. Disini orang tidak perlu
sibuk fotokopi ini-itu saat ada keperluan mengurus dokumen di kantor pemerintah
atau perusahaan. Cukup bawa surat-surat aslinya saja dan petugas di kantor
tersebutlah yang dengan senang hati akan melakukan pekerjaan itu. Artinya,
biaya, waktu dan tenaga untuk keperluan fotokopi dibebankan kepada kantor,
instansi atau perusahaan yang memang tugasnya melayani. Dengan kata lain, satu
beban masyarakat diambil alih oleh pemerintah. Sederhana...namun cukup patut dicontoh
menurut saya.
Tidak heran saat
mengurus surat menyurat, kita akan menemukan petugas dengan senyum
simpul (yang tidak dibuat-buat) bertanya, “Voulez-vous me faire de fotocopy,
Monsieur?” (Anda mau saya fotokopikan dokumennya, Pak?). Dengan senyum penuh
kemenagan mahasiswa Indonesia, yang dasar memang suka yang
gratisan menjawab, “Bien sure! S'il vous plaît!” alias “Sure! Please!”.
Sebagai mahasiswa
dengan ijin tinggal tidak lebih dari satu tahun, saya dapat merasakan begitu
banyak kemudahan yang bisa diperoleh ketika menjadi bagian dari masyarakat di
negara Zinédine Yazid Zidane ini.
Misalnya, dengan
kartu mahasiswa, kita bisa mendapatkan akses internet yang 24 hours available,
baik di kampus maupun di rumah (asrama), dapat meminjam buku di perpustakaan kampus selama 21 hari dan bisa
diperpanjang tanpa harus datang melapor ke perpustakaan alias cukup dari rumah
via internet plus free download beberapa situs jurnal internasional. Kemudian, dengan ‘carte de etudiant’ (KTM)
tersebut, kita bisa makan dengan harga murah di Resto-U (Restoran Kampus).
Kalau diluar makan bisa sampai 6 euro, di kampus hanya 3 euro.
Apabila sudah
memiliki Visa de Long Sejour (semacam KTP sementara), kita bisa mengurus
potongan sewa rumah di kantor Caf (Caisses d'Allocations Familiales). Potongan
yang diberikan lumayan besar, bisa sampai 50-60 persen (di tiap kota barangkali
berbeda). Misalnya, normalnya saya harus membayar 318 euro per bulan untuk sewa
asrama. Namun, setelah mendapatkan Caf saya hanya membayar 156 euro saja.
Setiap mahasiswa
yang terdaftar secara otomatis sudah diberikan asuransi kesehatan (Sécurité
Sociale) 100% bagi yang berumur dibawah 28 tahun. Bagi yang sudah tua
(seperti saya) hanya mendapatkan 70%. Namun, hanya dengan mengirimkan beberapa
dokumen permohonan ke kantor SMEBA (sejenis Health Insurance Service), saya
juga bisa mendapatkan 30% sisanya. Jika sewaktu-waktu jatuh sakit
(mudah-mudahan tidak), kita tinggal datang ke salah satu dokter yang telah direkomendasikan,
berobat dan membayar (menalangi) dahulu biaya pengobatan. Setelah itu, kita
tinggal menyerahkan bukti berobat
tersebut ke kantor SMEBA untuk reimbursement biaya yang telah kita keluarkan
untuk selanjutnya dikirimkan ke rekening kita kembali.
Kemudian, ada lagi
yang namanya kartu ‘Escapade’, yakni kartu khusus untuk mendapatkan
potongan harga tiket kereta yang bisa diurus di kantor SNCF (biro perjalanan
Perancis). Dengan kartu tersebut kita bisa mendapatkan reduksi harga tiket
hingga lebih 50%. Misalnya, harga tiket normal Angers-Paris sekitar 50 euro.
Namun dengan kartu Escapade kita hanya membayar 22 euro saja.
Nah...ini neeh yang
paling Mak Nyuuus. Namanya ‘Carte Partenaires’. Kartu ini bagaikan kartu
sakti naga geni 212 (orang Indonesia paling depan neeh kalau saol ini...pendek
kata, lambat kaki - kepala dulu). Dengan carte partenaires kita bisa dapat
reduksi macam-macam. Mulai dari potongan harga untuk tiket bus, tramway,
pelabuhan, perpustakaan umum, museum, nonton bioskop, pertunjukan teater,
pertunjukan orkestra, kolam renang, gelanggang ice skating dan kegiatan
olahraga lainnya, hingga potongan biaya pembersihan limbah rumah tangga dan
servis publik lainnya. C’est super!!!
Alkisah...
Agak heran juga
saya saat ke kantor SCSA tempat ngurus kartu sakti itu. Sambil antre nunggu
giliran (dengan penuh percaya diri), saya perhatikan wajah-wajah yang nunggu
disitu rata-rata terlihat agak sedih, sendu dan melankolis. Setelah usut punya
usut, rupanya kartu tersebut diperuntukkan oleh pemerintah Perancis
bagi warga masyarakat yang penghasilannya 1000 euro per bulan atau
kurang (penghasilan dibawah standar upah minimum regional). Dengan kata lain,
kartu sakti naga geni 212 tadi sepupu dekat dengan KARTU MISKIN. Dengan
beasiswa 1000 euro per bulan rupanya saya
termasuk kaum
du’afa di Perancis...he..he...
No comments:
Post a Comment