POTENSI:Bengkalis, Setelah
Minyak Lalu Apa?
Sabrie Noer
Alkisah...
... Suatu hari seekor ikan
berenang-renang hingga sampai ke perairan yang jauh. Tanpa sengaja ia mendengar
pembicaraan seorang nelayan dengan anaknya. Sang anak bertanya, “Ayah, apakah
hal yang paling penting dan menjadi sumber segala kehidupan di alam ini?”.
Ayahnya menjawab, “air anak ku, AIR!...Air lah sumber segala kehidupan di jagat
raya ini”. Seperti menangkap pembicaraan antara dewa, sang ikanpun bergegas
pulang dan menyampaikan hal penting itu kepada anak-anaknya, “Anak-anak ku,
ketahuilah bahwa hal yang paling penting dan menjadi sumber segala kehidupan di
alam ini ialah AIR. Mulai saat ini kita harus menemukan air!”. Anak-anak
ikanpun segera berenang kesana-kemari untuk menemukan AIR.
...........................
Sama seperti kisah ikan mencari
air - padahal setiap saat mereka hidup dan berenang-renang didalamnya – demikian
pula prihal POTENSI. Dekat, namun seringkali tidak kita sadari.
Bicara soal Pariwisata,
barangkali kita boleh minder melihat Bali. Sebuah pulau memukau dengan
keindahan yang eksotis, “Island of Paradise”. Namun bukan berarti Riau atau
Bengkalis khususnya tidak memiliki hal yang layak di “jual” untuk pariwisata.
Tujuh dari sepuluh wisatawan asing yang datang ke Indonesia dengan tujuan Pulau
Dewata, barangkali merupakan gambaran belum suksesnya pemerintah meratakan
pembangunan pariwisata di Indonesia. Sedih juga saya membaca buku Trilogi
Jendela Pariwisata Indonesia yang ditulis seorang Anggota DPR RI. Di dalam buku itu dimuat situs
wisata dari Sabang sampai Marauke. Namun, Pariwisata Riau dilewatkan begitu
saja. Hanya ada Sumatera Barat, lalu Kepri. ADA
APA DENGAN PARIWISATA RIAU???
Bersama teman kampus, saya pernah
berakhir pekan di salah satu desa wisata Sungai Ayung, daerah Ubud, Bali. Untuk
berkeliling naik gajah 1 jam saja wisatawan asing rela merogoh kantong USD 65,-
atau samadengan Rp. 590.000 per 1 orang dewasa kemudian Rp. 400.000 untuk anak-anak
dan Rp. 200.000 untuk bayi. Padahal, gajah-gajahnya didatangkan dari Sumatera
(barangkali termasuk gajah Duri). Kemudian, adalagi paket wisata bersampan
menyusuri sungai hutan mangrove di Nusa Lembongan dengan tarif Rp. 250.000.
Bersampan menyusuri hutan bakau mungkin
sama sekali bukan hal menarik bagi kita. Karena memang dari kecil kita sudah
sebau (sudah akrab) dengan hutan bakau dan tanah lempung. Namun tidak begitu
halnya bagi orang luar.
Pariwisata muncul dari keinginan
orang untuk melihat dan mengetahui sesuatu yang berbeda. Kalau kita ingin
melihat salju, orang Eropa ingin melihat matahari. Kita tertegun melihat
dedaunan pohon willow saat musim gugur, sementara orang Barat antusias sekali
melihat akar-akar bakau dan ikan tembakul.
Satu kali saya sempat bengong saat
dosen saya, Madam Sylvine, berkata, “Kalau ke Indonesia saya ingin sekali melihat
pohon mangga. Saya pernah melihat buahnya tapi penasaran ingin lihat pohonnya”.
Haaa??? Pohon mangga? (dalam hati saya). Mungkin keinginan dosen saya melihat
pohon mangga sama halnya dengan keinginan saya melihat kebun anggur. Begitulah
pariwisata.
Sementara orang kita masih
menganggap gelombang “Bono” di kuala sungai Kampar sebagai HANTU. Orang Amerika
dan Eropah menganggapnya tempat surfing yang sungguh luar biasa dan menantang.
Sejak tahun lalu sudah mondar-mandir turis penggemar olah raga air ekstrim itu
datang untuk ber-surfing ria meniti gelombang unik (tidal wave) yang muncul akibat
fenomena alam di kuala Kampar itu. Bahkan tim Rip Curl (Amerika) sudah merilis
video clip yang mereka beri judul “Bono, The Seven Ghosts” sekaligus
mempromosikannya di dunia maya lewat You Tube - sementara Pemerintah Daerah
belum tahu harus berbuat apa.
BENGKALIS dengan segala keunikan
alam dan kekhasan budaya serta adat istiadat tersendiri sudah barang tentu
memiliki banyak hal (POTENSI) yang bisa dikembangkan untuk pariwisata. Oke lah...
kita masih bisa berbangga dengan minyak bumi yang kita miliki ... untuk saat
ini. Namun sampai kapan kita akan mengandalkan black gold yang tidak bisa
diperbaharui itu?
Mungkin sudah saatnya pemerintah
daerah Kabupaten Bengkalis lebih serius memikirkan Pariwisata sebagai salah
satu alternatif pengembangan ekonomi masyarakat dan daerah untuk masa depan Bengkalis.
Referensi:
Cerita ikan dapat dari teman saya
yang luar biasa - Pak Komar.
No comments:
Post a Comment