Sunday, January 1, 2012


WONDERFUL: Words for Julia
Sabrie Noer, Angers,  20 Dec 2011

It was raining when we first met in Ralliement,
 and it was also raining when the last time
we spent time together in Ralliement.
Seems like a perfect circle, doesn’t it?

Friend...
I’m happy you’re home safely
I heard you’ve started working in a new hospital.
I hope you enjoy working and living and having some new friends there.

All I want to say is...It’s WONDERFUL to have you as a friend;
With all the food...the chats...the laugh...the photos...
the funny faces...the laugh again...all the times we’ve spent together.

I see...
It was raining when we first met in Ralliement,
 and it was also raining when the last time
we spent time together in Ralliement.
Seems like a perfect circle...
like a song with certain intro and end with the same ending melody...

However....

I hope that isn’t a full circle of our friendship....yet...
I hope it will be a very very big circle...and so ain’t no end...
I hope this song is a lovely song
that keeps sounding and will never ending
forever...

Warm hugs from cold cloudy Angers,
Sabrie Noer

POTENSI:Bengkalis, Setelah Minyak Lalu Apa?
Sabrie Noer

Alkisah...

... Suatu hari seekor ikan berenang-renang hingga sampai ke perairan yang jauh. Tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan seorang nelayan dengan anaknya. Sang anak bertanya, “Ayah, apakah hal yang paling penting dan menjadi sumber segala kehidupan di alam ini?”. Ayahnya menjawab, “air anak ku, AIR!...Air lah sumber segala kehidupan di jagat raya ini”. Seperti menangkap pembicaraan antara dewa, sang ikanpun bergegas pulang dan menyampaikan hal penting itu kepada anak-anaknya, “Anak-anak ku, ketahuilah bahwa hal yang paling penting dan menjadi sumber segala kehidupan di alam ini ialah AIR. Mulai saat ini kita harus menemukan air!”. Anak-anak ikanpun segera berenang kesana-kemari untuk menemukan AIR.

...........................

Sama seperti kisah ikan mencari air - padahal setiap saat mereka hidup dan berenang-renang didalamnya – demikian pula prihal POTENSI. Dekat, namun seringkali tidak kita sadari.

Bicara soal Pariwisata, barangkali kita boleh minder melihat Bali. Sebuah pulau memukau dengan keindahan yang eksotis, “Island of Paradise”. Namun bukan berarti Riau atau Bengkalis khususnya tidak memiliki hal yang layak di “jual” untuk pariwisata. Tujuh dari sepuluh wisatawan asing yang datang ke Indonesia dengan tujuan Pulau Dewata, barangkali merupakan gambaran belum suksesnya pemerintah meratakan pembangunan pariwisata di Indonesia. Sedih juga saya membaca buku Trilogi Jendela Pariwisata Indonesia yang ditulis seorang Anggota DPR RI. Di dalam buku itu dimuat situs wisata dari Sabang sampai Marauke. Namun, Pariwisata Riau dilewatkan begitu saja. Hanya ada Sumatera Barat, lalu Kepri.  ADA APA DENGAN PARIWISATA RIAU???

Bersama teman kampus, saya pernah berakhir pekan di salah satu desa wisata Sungai Ayung, daerah Ubud, Bali. Untuk berkeliling naik gajah 1 jam saja wisatawan asing rela merogoh kantong USD 65,- atau samadengan Rp. 590.000 per 1 orang dewasa kemudian Rp. 400.000 untuk anak-anak dan Rp. 200.000 untuk bayi. Padahal, gajah-gajahnya didatangkan dari Sumatera (barangkali termasuk gajah Duri). Kemudian, adalagi paket wisata bersampan menyusuri sungai hutan mangrove di Nusa Lembongan dengan tarif Rp. 250.000.

Bersampan menyusuri hutan bakau mungkin sama sekali bukan hal menarik bagi kita. Karena memang dari kecil kita sudah sebau (sudah akrab) dengan hutan bakau dan tanah lempung. Namun tidak begitu halnya bagi orang luar.

Pariwisata muncul dari keinginan orang untuk melihat dan mengetahui sesuatu yang berbeda. Kalau kita ingin melihat salju, orang Eropa ingin melihat matahari. Kita tertegun melihat dedaunan pohon willow saat musim gugur, sementara orang Barat antusias sekali melihat akar-akar bakau dan ikan tembakul.

Satu kali saya sempat bengong saat dosen saya, Madam Sylvine, berkata, “Kalau ke Indonesia saya ingin sekali melihat pohon mangga. Saya pernah melihat buahnya tapi penasaran ingin lihat pohonnya”. Haaa??? Pohon mangga? (dalam hati saya). Mungkin keinginan dosen saya melihat pohon mangga sama halnya dengan keinginan saya melihat kebun anggur. Begitulah pariwisata.

Sementara orang kita masih menganggap gelombang “Bono” di kuala sungai Kampar sebagai HANTU. Orang Amerika dan Eropah menganggapnya tempat surfing yang sungguh luar biasa dan menantang. Sejak tahun lalu sudah mondar-mandir turis penggemar olah raga air ekstrim itu datang untuk ber-surfing ria meniti gelombang unik (tidal wave) yang muncul akibat fenomena alam di kuala Kampar itu. Bahkan tim Rip Curl (Amerika) sudah merilis video clip yang mereka beri judul “Bono, The Seven Ghosts” sekaligus mempromosikannya di dunia maya lewat You Tube - sementara Pemerintah Daerah belum tahu harus berbuat apa.

BENGKALIS dengan segala keunikan alam dan kekhasan budaya serta adat istiadat tersendiri sudah barang tentu memiliki banyak hal (POTENSI) yang bisa dikembangkan untuk pariwisata. Oke lah... kita masih bisa berbangga dengan minyak bumi yang kita miliki ... untuk saat ini. Namun sampai kapan kita akan mengandalkan black gold yang tidak bisa diperbaharui itu?

Mungkin sudah saatnya pemerintah daerah Kabupaten Bengkalis lebih serius memikirkan Pariwisata sebagai salah satu alternatif pengembangan ekonomi masyarakat dan daerah untuk masa depan Bengkalis.


Referensi:
Cerita ikan dapat dari teman saya yang luar biasa - Pak Komar.