CULTURE SHOCK (Bahagian I)
Sabrie Noer
Membicarakan perbedaan Barat dan Timur
bagai sebuah buku besar yang halaman demi halamannya tak kunjung selesai dibaca.
Sementara, saya selalu merasa tertarik utk menjadi “Life Observer” dan tak pula
bisa menahan diri untuk tidak berbagi ceritanya ke teman-teman.
Perbedaan yang saya maksud mulai
dari perbedaan iklim, bahasa, postur tubuh, kehidupan sosial, budaya, adat
kebiasaan, dan banyak lagi. Karena perbedaan-perbedaan ini pula tak jarang bagi
‘newcomers’ (para pendatang baru) dari Timur ke Barat atau sebaliknya merasakan
pengalaman gegar budaya atau sering disebut ‘Culture Shock’.
Sebagai contoh, di budaya Western,
KENTUT (asal tidak bau) tidaklah terlalu tabu, atau menghembus-hembuskan ingus
ke saputangan meskipun sedang makan di restoran bukanlah hal yang buruk. Sebaliknya
kalau bersin atau batuk (berkahak = bahasa Selatpanjang) dalam acara makan atau
sekedar pertemuan bisa membuat banyak orang memandang heran. Apabila BERSIN
mereka berusaha agak sedikit menahannya, sehingga bunyi bersin yang keluar tak
ubahnya seperti bunyi anak tikus kejepit pintu. Lalu senyam-senyum seperti
orang bersalah dan meminta maaf ke kita, “Je suis désolé” (I’m sorry).
Sementara kita, selagi belum begego (bergoyang = skali lagi bahasa Selatpanjang)
tiang rumah belum puas pulak rasanya bersin itu. Tak jarang sampai basah kuyup
orang yang berada didepan.
Selain perihal bersin dan kentut
tadi, tentu masih banyak cerita aneh, unik dan lucu ketika dua budaya ini
bertemu sepanggung dalam pergaulan sosial.
CIPIKA-CIPIKI; Kebiasaan cium
pipi kanan-cium pipi kiri ala Eropah (lebih tepatnya menempelkan pipi sambil
membunyikan kecupan) tak jarang membuat kita shock. Apalagi bagi saya yang
memang pembawaannya agak sedikit alim (eheeem...). Sudah menjadi budaya mereka
ketika bertemu dengan teman khususnya laki-laki dan perempuan untuk saling
cipika-cipiki tadi. Tiap daerah beda pula jumlahnya. Ada yang dua kali, empat,
bahkan enam kali. Namun yang umumnya biasanya dua kali, kiri-kanan.
Contoh salah satu teman saya,
Julia Utsching. Bila ketemu, setiap kali saya mengulurkan tangan, pasti anak
Jerman calon dokter bedah itu menolak, “No...no...European, please!” katanya
sembari tersenyum seolah-olah mau mengajarkan saya adat dan sopan santun peninggalan
nenek moyangnya itu. Terus terang awalnya saya merasa kikuk dan serba salah.
Tapi, mau bagaimana lagi. Kita sudah masuk di kandang orang. Saya pakai pepatah
Melayu lama saja “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. Yang penting
niat, pikir saya. Yaaa...sudahlah, saya akhirnya pasrah juga. Itung-itung lumayan
juga buat penghangat di pagi hari...astagfirullaaaah.
MERCI & PPP ; Ucapan “Merci”
atau terimakasih seringkali meluncur dari mulut orang Perancis. Untuk hal ini
‘politeness’ mereka sepertinya lebih hebat dari kita. Dalam satu hari
barangkali tak terhitung berapa puluh kali kita akan mendengarkan ucapan merci.
Bahkan untuk hal-hal kecil yang di negara kita orang tidak perlu mengucapkan
kata terimakasih. Seperti saat membayar belanjaan di kasir, saat menunjukan
paspor, saat memberi jalan dikeramaian, saat menahan daun pintu, dan lain-lain. Menahan
pintu (agar tetap terbuka untuk org lain dibelakang kita) saat masuk atau keluar
gedung sepertinya menjadi salah satu bentuk kesopanan (gentle) tersendiri di
Perancis. Tak dapat tidak, jika kita melakukan itu, dijamin mereka berebut
bilang “Merci...Merci..” layaknya kita sudah berkorban besar buat mereka. Tiga
kali melewati pintu, tiga kali pula ucapan merci-nya. Saya paling suka bagian
nahan pintu ini. Tiap kali ada kesempatan, pasti saya duluan yang membukakan
pintu. Mendengarkan mereka bilang merci sambil tersenyum. Pokoknya benar-benar
merasa jadi pahlawan - Pahlawan Penahan Pintu ... alias PPP...haaa (12x).
TOILET: Jangan berharap ada air
untuk cuci (saat BAK atau BAB) di toilet-toilet baik di kampus atau di toilet
umum lainya. Yang ada cuma tisu. Naaah...bagi kita yang tdk biasa, tentu terasa
sangat tidak nyaman terutama setelah BAB. Pernah juga sekali saya, karena tak
tahan lagi, terpaksa BAB di toilet kampus. Waduuuh...bukan main resah dan
gelisah rasanya (seperti orang berdosa besar) menunggu sampai pulang ke asrama.
Naseeeb!
To be continued ...