Wednesday, December 7, 2011


CULTURE SHOCK (Bahagian I)
Sabrie Noer

Membicarakan perbedaan Barat dan Timur bagai sebuah buku besar yang halaman demi halamannya tak kunjung selesai dibaca. Sementara, saya selalu merasa tertarik utk menjadi “Life Observer” dan tak pula bisa menahan diri untuk tidak berbagi ceritanya ke teman-teman.

Perbedaan yang saya maksud mulai dari perbedaan iklim, bahasa, postur tubuh, kehidupan sosial, budaya, adat kebiasaan, dan banyak lagi. Karena perbedaan-perbedaan ini pula tak jarang bagi ‘newcomers’ (para pendatang baru) dari Timur ke Barat atau sebaliknya merasakan pengalaman gegar budaya atau sering disebut ‘Culture Shock’.

Sebagai contoh, di budaya Western, KENTUT (asal tidak bau) tidaklah terlalu tabu, atau menghembus-hembuskan ingus ke saputangan meskipun sedang makan di restoran bukanlah hal yang buruk. Sebaliknya kalau bersin atau batuk (berkahak = bahasa Selatpanjang) dalam acara makan atau sekedar pertemuan bisa membuat banyak orang memandang heran. Apabila BERSIN mereka berusaha agak sedikit menahannya, sehingga bunyi bersin yang keluar tak ubahnya seperti bunyi anak tikus kejepit pintu. Lalu senyam-senyum seperti orang bersalah dan meminta maaf ke kita, “Je suis désolé” (I’m sorry). Sementara kita, selagi belum begego (bergoyang = skali lagi bahasa Selatpanjang) tiang rumah belum puas pulak rasanya bersin itu. Tak jarang sampai basah kuyup orang yang berada didepan.

Selain perihal bersin dan kentut tadi, tentu masih banyak cerita aneh, unik dan lucu ketika dua budaya ini bertemu sepanggung dalam pergaulan sosial.

CIPIKA-CIPIKI; Kebiasaan cium pipi kanan-cium pipi kiri ala Eropah (lebih tepatnya menempelkan pipi sambil membunyikan kecupan) tak jarang membuat kita shock. Apalagi bagi saya yang memang pembawaannya agak sedikit alim (eheeem...). Sudah menjadi budaya mereka ketika bertemu dengan teman khususnya laki-laki dan perempuan untuk saling cipika-cipiki tadi. Tiap daerah beda pula jumlahnya. Ada yang dua kali, empat, bahkan enam kali. Namun yang umumnya biasanya dua kali, kiri-kanan.

Contoh salah satu teman saya, Julia Utsching. Bila ketemu, setiap kali saya mengulurkan tangan, pasti anak Jerman calon dokter bedah itu menolak, “No...no...European, please!” katanya sembari tersenyum seolah-olah mau mengajarkan saya adat dan sopan santun peninggalan nenek moyangnya itu. Terus terang awalnya saya merasa kikuk dan serba salah. Tapi, mau bagaimana lagi. Kita sudah masuk di kandang orang. Saya pakai pepatah Melayu lama saja “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. Yang penting niat, pikir saya. Yaaa...sudahlah, saya akhirnya pasrah juga. Itung-itung lumayan juga buat penghangat di pagi hari...astagfirullaaaah.

MERCI & PPP ; Ucapan “Merci” atau terimakasih seringkali meluncur dari mulut orang Perancis. Untuk hal ini ‘politeness’ mereka sepertinya lebih hebat dari kita. Dalam satu hari barangkali tak terhitung berapa puluh kali kita akan mendengarkan ucapan merci. Bahkan untuk hal-hal kecil yang di negara kita orang tidak perlu mengucapkan kata terimakasih. Seperti saat membayar belanjaan di kasir, saat menunjukan paspor, saat memberi jalan dikeramaian, saat menahan daun pintu, dan lain-lain. Menahan pintu (agar tetap terbuka untuk org lain dibelakang kita) saat masuk atau keluar gedung sepertinya menjadi salah satu bentuk kesopanan (gentle) tersendiri di Perancis. Tak dapat tidak, jika kita melakukan itu, dijamin mereka berebut bilang “Merci...Merci..” layaknya kita sudah berkorban besar buat mereka. Tiga kali melewati pintu, tiga kali pula ucapan merci-nya. Saya paling suka bagian nahan pintu ini. Tiap kali ada kesempatan, pasti saya duluan yang membukakan pintu. Mendengarkan mereka bilang merci sambil tersenyum. Pokoknya benar-benar merasa jadi pahlawan - Pahlawan Penahan Pintu ... alias PPP...haaa (12x).

TOILET: Jangan berharap ada air untuk cuci (saat BAK atau BAB) di toilet-toilet baik di kampus atau di toilet umum lainya. Yang ada cuma tisu. Naaah...bagi kita yang tdk biasa, tentu terasa sangat tidak nyaman terutama setelah BAB. Pernah juga sekali saya, karena tak tahan lagi, terpaksa BAB di toilet kampus. Waduuuh...bukan main resah dan gelisah rasanya (seperti orang berdosa besar) menunggu sampai pulang ke asrama. Naseeeb!

To be continued ...







BALI-FRANCE IN MY EYES (For Someone I used to be Close to)
Sabrie Noer Paradise Island, Februari 2010

That’s weird! I thought you’ve stopped thinking about me.

BALI?

Bali stays Bali…”the last paradise, the island of Gods, the island of thousand temples”…everyday with their Pura & Puja and the fragrance from their Dupa...

While…I stay who I am…
Some say ‘people change’;
but I don’t totally believe that (Do you?).
I believe there’s a single ‘molecule’ in each
human’s heart which never changes forever.
Sometimes, I think I’m just the same person to
whom I was 10 or 20 years ago.
Sometimes, 1998 seems so fresh to me (Hopefully that’s normal).
You know, erasing a five-year-memory
equals to crashing 2.5 million cells in your brain.
That sounds crazy, doesn’t it?

FRANCE?

Yes! That’s a ‘hope’ but I can’t say it’s a ‘sure’. Who are we to create the future? I believe life’s just flowing like a river;
It will finally find out its own way…
I always use this word: “Do the Best then Let God do the Rest”…

I’m sorry Na….maybe I’ve talked too much…

(long time not writing to you!)

Btw…thanks for listening!

Tuesday, December 6, 2011


Angers, France - Autumn 2011
MERANTAU
Sabrie Noer


Dari rumah tua berpapan punak
Bertudung galang kayu Meranti
dan sebelah tingkap tergajai
“Anak lelaki harus pergi”, kata Emak.

Dan...kaki kecil ku kaku menapak
Di tanah merah pakis bergambut
Diujung kuala Sungai Suak
Berbaris busut setelah surut

.....

Senja itu
Ku lepaskan tali perahu
Ke muara tak bertuan aku menuju
Tinggalkan harum api-api
Lepaskan dekap anak-istri
Maka pecahlah buih ... memutih

Disinilah aku kini
Terperangkap angkuhnya gedung-gedung
Dan parfum Perancis yang menusuk hidung
Saat rindu membumbung
Saat derai gerimis ... menangis

Terngiang kata bijak Imam Syafi’i ...
“... Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampong. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapat pengganti dari kerabat dan kawan. Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang. Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran. Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang. Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa jika tetap didalam hutan. Berlelah-lelahlah! Manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang...”

Disinilah aku kini
Terlempar jarak semesta
Ke sepertiga belahan dunia

Merantau ...